Sunday, 1 May 2011

contoh penulisan makalah | SEJARAH AHLI PESAWAT TERBANG

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman, teknologi juga mengalami perkembangan yang pesat pula. Adanya kemajuan di bidang teknologi semakin memudahkan manusia untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Salah satu teknologi yang mengalami perkembangan pesat adalah teknologi di bidang penerbangan. Saat ini kita sudah bisa menikmati kecanggihan teknologi di bidang penerbangan. Hal ini tidak terlepas dari perjuangan tokoh-tokoh terdahulu dalam mewujudkan impian mereka.
Penemuan pesawat terbang merupakan fenomena sejarah yang penting, baik dalam hal penggunaan untuk tujuan-tujuan damai maupun perang. Hanya dalam tempo puluhan tahun sesudah itu, pesawat terbang telah membuat dunia kita begitu sempit, bahkan ruang angkasa pun rasanya dapat disentuh jari. Dan lebih dari itu, penemuan pesawat terbang bermuatan manusia merupakan pemula dan pembuka jalan bagi penerbangan di luar angkasa. Sebelum keberhasilan Wilbur dan Orville Wright dalam membuat pesawat terbang, bisa terbang layaknya burung hanyalah sebuah impian belaka. Seperti halnya kata-kata penyair Jerman (dalam: Stever, 1973: 9) “Betapa dalam aku mendambakan kemampuan meluncurkan diri mengarungi angkasa yang tak terbatas dan melayang di atas jurang menganga yang mempesonakan” (Guyford Stever,1973:9). Kata-kata tersebut mengungkapkan impian manusia untuk terbang sejak awal zaman.
Pesawat Terbang mengalami perkembangan sejarah yang sangat panjang. Ada beberapa tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan pesawat terbang. Salah satunya adalah bapak pesawat terbang kita yaitu Wilbur dan Orville Wright Di mana mereka telah berhasil membuat ”The Flayer “ pesawat bermesin pertama. Keberhasilan dalam membuat The Flayer memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat saat itu. Fokus dari makalah ini adalah sejarah perkembangan pesawat, pembuatan The Flayer serta dampak keberhasilan pembuatan The Flayer. Untuk itulah penyusun mengambil judul”SEJARAH AHLI PESAWAT TERBANG”

B. Rumusan Masalah
1. Siapa saja para ahli sebelum Wright bersaudara dan apapenemuannya?
2. Bagaimana proses pembuatan The Flayer oleh Wright bersaudara?
3. Bagaimana dampak keberhasilan pembuatan The Flayer?
C. Tujuan
1. Memaparkan para ahli sebelum Wright bersaudara beserta penemuannya.
2. Menjelaskan proses pembuatan The Flayer oleh Wright bersaudara.
3. Menjelaskan dampak keberhasilan pembuatan The Flayer.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Para Ahli Sebelum Wright Bersaudara
Burung besi bernama pesawat terbang memang bukan barang aneh lagi di zaman modern seperti sekarang ini. Ternyata, perjalanan sejarah pesawat terbang dari pertama kali dibuat hingga pesawat terbang masa kini dengan segala kecanggihannya telah cukup panjang yaitu 100 tahun.
Sebelum adanya penerbangan, telah ada penerjunan dari menara kira-kira pada abad pertengahan. Para perintis penerjun payung tersebut mempercayakan nyawa mereka sepenuhnya pada sayap yang mereka buat berdasarkan anggapan bahwa sumber daya angkat pada burung adalah sayapnya, sedangkan sumber daya dorongnya adalah gerak kepakannya. Mereka tidak memahami perbedaan penting antara burung dan manusia. Baru pada tahun 1680, Giovanni Borelli, seorang Italia mengemukakan fakta tersebut. (Peterson, 1983 : 34)
Sampai akhir abad ke-18, hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam seni terbang ataupun bahkan tidak ada kemajuan sama sekali. Satu-satunya karya yang pantas menjadi bahan pertimbangan serius adalah karya Leonardo Da Vinci, sang jenius dari zaman Renaissance. Leonardo (1452-1519) melakukan studi mendetail tentang gerak burung, aliran udara, dan tekanan udara terhadap benda yang bergerak melaluinya. Selama 200 tahun lebih sesudah Leonardo kemajuan penerbangan terhenti. Kemudian pada akhir tahun 1700-an kedambaan manusia untuk terbang mengambil arah baru.
Secara historis penerbangan sejati pada dasarnya berhutang budi pada empat orang jenius, Sir George Cayley (1773-1857), Otto Lilienthal (1848-1896), dan dua orang bersaudara yakni Wilbur (1867-1912) dan Orville Wright (1871-1948). Sumbangan lainnya datang dari William S.Henson (1812-1888), Octave Chanute (1832-1910), Samuel Pierpont Langley (1834-1906), Sir Hiram Maxim (1840-1916) dan Alfonso Penaud (1850-1880),(Stever, 1986 : 10). Berikut ini adalah sumbangan beberapa tokoh diatas :
1.Sir George Cayley
Ia adalah seorang bangsawan dari Yorkshire yang luar biasa minatnya. Selama 84 tahun perjalanan hidupnya Cayley menyelidiki obyek yang demikian beraneka ragam. Para ahli sejarah menyebut Cayley sebagai “penemu pesawat terbang” yang sebenarnya. Sebutan itu mungkin terlalu dibesar-besarkan, tetapi tidak diragukan lagi bahwa Cayley telah meletakkan dasar untuk penelitian aeronautika di kemudian hari. Dialah orang yang pertama merakit berbagai unsur yang diperlukan untuk penerbangan walaupun sebenarnya hanya berbentuk teori saja. Seperti banyak orang sebelumnya, Cayley memulai studinya dengan mempelajari tentang cara burung terbang. Tetapi ia menggabungkan penelitian ini dengan penyelidikan tentang reaksi udara terhadap benda yang bergerak melaluinya.
Pada tahun 1804, sesudah penelitian bertahun-tahun Cayley membuat pesawat terbangnya yang pertama, sebuah pesawat terbang layang yang oleh banyak ahli sejarah diterima sebagai pesawat terbang asli. Dalam penerbangan uji pesawat itu cukup berhasil sehingga lima tahun kemudian ia membuat dalam ukuran yang sebenarnya dengan luas sayap kurang lebih 18,5 m dan ia berhasil menerbangkannya tanpa awak. Cayley mencoba menggunakan daya untuk pesawat layangnya. Satu-satunya sumber daya yang dapat di peroleh adalah mesin uap, tetapi terlalu berat untuk digunakan pada pesawat terbang. Cayley membuat studi tentang propulsi, tetapi akhirnya ia gagal mendapatkan suatu daya yang cukup ringan untuk penerbangan.
Setelah gagal membuat pesawat yang pertama, Cayley membuat pesawat yang kedua dengan teori yang baru dan kemudian mengujinya. Dalam uji terbangnya tersebut ia menjadikan seorang bocah lelaki sebagai penerbang uji dan konon telah terbang beberapa meter menuruni bukit. Kemudian sekitar tahun 1853 ia membujuk kusirnya supaya terbang dari sebuah bukit melintasi bukit.
2.William S.Henson
Henson adalah pengagum utama Cayley. Henson bekerja sama dengan seorang insinyur bernama John Stringfellow. Mereka berdua membuat model kereta uap itu dengan ukuran 6 m. Penggeraknya sebuah mesin uap yang relatif ringan dan ringkas. Dalam sebuah pengujian pada tahun 1848 model itu “terbang” dengan cara tertentu, tetapi mesinnya tidak mampu mempertahankan terbangnya. Model itu hanya mampu melayang, dengan penurunan yang lebih lambat daripada jika tidak menggunakan daya. Namun terbang uji ini merupakan usaha pertama untuk menggunakan propulsi mekanis pada pesawat terbang.
3. Alphonse Penaud
Ia mulai mempelajari aeronautika pada tahun 1870-an. Ia menghasilkan rancangan pertama yang mengandung unsur stabilitas. Model yang panjangnya 56 cm dengan baling-baling pendorong berdaya pita karet yang disebutnya “planophore” diterbangkan dengan sukses di depan umum pada tahun 1871.
Penaud kemudian mengalihkan perhatiannya pada pesawat terbang pengangkut manusia dan merancang suatu pesawat amfibi dengan ukuran yang sebenarnya. Pesawat ini sangat maju dan memiliki banyak ciri pesawat modern. Penaud memperkirakan bahwa rancangannya mampu terbang pada 90 km/jam, asalkan ia dapat memperoleh dukungan keuangan. Tetapi dukungan itu tak pernah didapatkannya dan pesawat tadi tak pernah di buat. Pada tahun 1880 dalam keadaan patah semangat yang sangat pedih dan sakit-sakitan, Penaud bunuh diri.
Ia meninggal tanpa mengetahui sumbangan yang telah diberikannya bagi masa depan penerbangan. Pada tahun 1878 Milton Wright, seorang uskup Gereja United Brethrem di Cedar Rapids, Iowa membeli pesawat terbangnya untuk kedua anak laki-lakinya Wilbur dan Orville Wright.
4. Otto Lilienthal
Ia adalah seorang Jerman. Ia melakukan studi mendetail tentang burung dan menerbitkan penemuannya dalam buku Bird Flight as The Basis of Aviation. Lilienthal memulai usahanya tahun 1891 dan dia membuat serta menerbangkan serangkaian pesawat layang. (O’Brien, 1986 : 106)
Pada tahun 1896 Lilienthal mulai menangani pesawat layang bermesin. Ia mempergunakan pendekatan baru : sebuah mesin gas asam arang digunakan agar memberi tenaga pada ujung sayap dan menyebabkan gerakan yang menyerupai kepakan sayap burung. Tetapi nasib baik Lilienthal berakhir sebelum ia berhasil dengan pesawat baru. Pada tanggal 9 Agustus 1896 ia sedang melakukan penerbangan rutin dengan pesawat layang tak bermesinnya. Ketika hembusan angin menghalangi meluncurnya pesawat, mengakibatkan pesawat tersebut jatuh terhempas dari ketinggian kira-kira 15 m. Pada hari berikutnya Lilienthal meninggal karena luka-lukanya.
5. Sir Hiram Haxim
Sebelum tahun 1900 ia telah membuat pesawat besar bermesin dan ia bereksperimen dengan pesawat tersebut. Ia berkonsentrasi pada penggunaan daya dan mengabaikan masalah yang berkaitan dengan gaya angkat dan pengendalian. Ia membuat sebuah pesawat bersayap ganda yang menurut ukuran aerodinamika sangat sederhana dan berdaya dua mesin uap 180 daya kuda.
6. Octave Chanute
Ia mulai berminat pada penerbangan tahun 1875 dan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengumpulkan dan menyebarkan karya peneliti-peneliti lain. Baru pada tahun 1896 ia memutuskan untuk merancang pesawat layangnya sendiri. Dalam umur enam pulahan, Chanute menyempurnakan pesawat layang bersayap ganda hasil rancangan Lilienthal. Ia memberikan satu sumbangan penting bagi struktur di masa depan dengan mengenalkan konstruksi kerangka jembatan ciptaan Pratt. Pesawat-pesawat layang Chanute melakukan ratusan penerbangan yang berhasil. Banyak diantaranya menempuh jarak lebih dari 90 m. Chanute berharap akan meneruskan eksperimen ke pesawat bermesin, tetapi pada tahun 1900 ia menjadi orang kepercayaan dan konsultan Wright bersaudara.
7. Samuel Pierpont Langley
Langley mulai melakukan penelitian teoritis dan laboratorium secara ekstensif dalam bidang aerodinamika, mulai dari tahun1896 sampai meninggalnya tahun 1906. Kemudian ia melakukan penelitian untuk mendapatkan mesin ringan yang berdaya besar. Dan barulah Charles M.Manley (teman sejawatnya) merancang mesin tersebut. Mesin ini membangkitkan daya 52 kuda, sedangkan beratnya hanya 57 kg. Ini disebut aerodrom, sebuah istilah yang dipakai Langley bagi pesawat terbangnya. Perbandingan daya terhadap berat ini tak terlampui sampai akhir PD I.
Pesawat ciptaan Langley di coba pertama kalinya pada 7 oktober 1903. Percobaan ini gagal, Aerodom mengalami masalah pada alat peluncurnya. Aerodom terjungkir ke sungai Potomac akan tetapi Manley tidak terluka. Setelah 2 bulan perbaikan dilakukanlah percobaan ke-2. Lagi-lagi alat peluncurnya macet. Kali ini walaupun Manley selamat, Aerodom itu rusak berat. Sesudah Langley meninggal, pengagum-pengagumnya tetap berpendapat bahwa Aerodom adalah pesawat pertama yang mampu terbang dengan menggunakan mesin walaupun memiliki kelemahan pada rancangan alat lontarnya. (Arismunandar, 2000 : 22)
B. Pembuatan The Flayer (Wilbur dan Orville Wright)
Wilbur dan Orville Wright adalah dua orang bersaudara, Wilbur Wright (16 April 1876-30 Mei 1912) dan Orville Wright (19 Agustus 1871-30 Januari 1948), putra dari seorang pendeta dari Dayton, Ohio. Wilbur Wright lahir di kota Millville, Indiana. Sedangkan adiknya, Orville Wright lahir di kota Dayton, Ohio. Kedua anak lelaki ini pernah duduk di perguruan tinggi tetapi tidak satu pun memperoleh ijazah. Keduanya punya bakat di bidang mekanika dan keduanya tertarik dengan masalah menerbangkan manusia ke udara.
Selagi masih muda, Wright bersaudara membuat mesin cetak dan menerbitkan sebuah surat kabar. Pada tahun 1892 mereka membuka toko, menjual, membetulkan, dan membikin sepeda. Usaha ini banyak mendatangkan dana untuk melanjutkan niatnya, yaitu penyelidikan di sektor aeronautik. Kakak-beradik ini asyik menekuni karya-karya peminat aeronautik, seperti Otto Lilienthal, Octove Chanute, dan Samuel P. Langley. Ketika perintis terbang layang dari Jerman Otto Lilienthal jatuh dan meninggal pada tahun 1896, perhatian dua orang bersaudara itu menjadi terpusat pada penerbangan. Dalam waktu tiga tahun, kedua bersaudara tersebut melakukan eksperimennya sendiri dengan pesawat layang.
Pada saat mereka siap melakukan eksperimen-eksperimennya, mereka telah melahap bacaan apa saja tentang aerodinamika dan menelaah apa burung-burung selagi terbang. Sehingga mereka mendapat suatu kesimpulan yang sangat penting bagi eksperimen mereka. Mereka yakin bahwa unsur pokok dalam penerbangan adalah pengendalian atau menjaga keseimbangan dalam udara yang tidak stabil. Dari pengamatannya terhadap burung yang sedang terbang, Wilbur bersaudara mendapatkan cara untuk membuat layang-layang bersayap ganda yang sayapnya dapat di puntir dengan jalan memainkan tali.
Pada tahun 1900 setelah melakukan studi mendalam, Wilbur dan Orville Wright memutuskan untuk membuat pesawat layang dengan ukuran sebenarnya. Pesawat itu bersayap ganda, tidak berekor dan dilengkapi dengan bidang pengontrol mendatar dibagian depan sayap. Rancangannya mirip Chanute akan tetapi ada suatu perbaikan penting. Sayapnya terpilin atau terputar sehingga diperoleh pengontrolan pesawat itu pada sisi-sisinya.
Ada beberapa sebab yang membuat mereka berhasil. Pertama, dua kepala tentu lebih efektif daripada satu kepala. Wright bersaudara senantiasa bekerja sama dan tunjang-menunjang dengan amat serasi dan sempurna. Kedua, mereka dengan cekatan mengambil keputusan bahwa mereka pertama mempelajari bagaimana cara terbang sebelum mencoba membikin pesawat. Wright bersaudara terlebih dahulu belajar terbang dengan menggunakan pesawat peluncur. Mula-mula mereka mengamati cara kerja layang-layang, kemudian peluncur. Pada bulan Oktober 1900 di Kitty Hawk, Karolina Utara Wright bersaudara melakukan percobaan penerbangan. Walaupun pesawat layangnya memiliki kemampuan angkat yang lebih kecil daripada perkiraan mereka, Wright bersaudara merasa berbesar hati dan mereka kembali ke Dayton untuk membuat pesawat yang lebih besar.
Pada bulan Juli dan Agustus 1901 mereka menerbangkan pesawat layang yang kedua, dan hasilnya mengecewakan. Pengontrolan dan stabilitas pesawat yang lebih besar itu lebih jelek. Kegagalan tersebut tidak membuat mereka berputus asa. Setelah gagal mereka kembali ke Dayton dan banyak membuat percobaan mengenai sayap. Mereka kemudian melakukan eksperimen-eksperimen serta mempelajari karya-karya para pendahulunya. Pengalaman mengudara dengan pesawat peluncur merupakan inti sukses ketiga mereka yang amat penting. Banyak orang yang sebelumnya sudah pernah mencoba membuat pesawat punya kekhawatiran utama bagaimana hasil ciptaannya dapat tinggal landas. Wright bersaudara dengan tepat menyadari bahwa masalah pokok adalah bagaimana mengatasi pesawat sesudah berada di udara. Karena itu, sebagian besar waktu dan perhatian mereka tumpahkan pada bagaimana mencapai kestabilan pesawat ketika sudang terbang.
Salah satu eksperimen yang telah mereka lakukan yaitu membangun terowongan angin mereka sendiri dan melakukan pengujian terhadap beraneka ragam bentuk sayap dari sayap tunggal, sayap ganda, dan sayap ganda tiga. Pekerjaan ini menghasilkan kesimpulan yang sangat penting bahwa mereka dapat membuat sayap yang lebih efisien dan lebih stabil kalau mereka mempergunakan lebih sedikit cembungan atau lengkungan dan memakai perbandingan lebih besar antara panjang sayap dan lebarnya. Pengetahuan ini beserta teknik pemuntiran sayap dan penemuan lain digabungkan dalam perancangan pesawat mereka yang ketiga.
Wright bersaudara juga memberi sumbangan penting dalam hal perancangan sayap. Mereka menciptakan lorong-lorong angin dan dicoba terhadap lebih dari dua ribu macam bentuk permukaan sayap. Inti utama dari percobaan ini adalah kedua bersaudara itu mampu membuat bagan sendiri, memaparkan tentang tekanan udara terhadap sayap tergantung pada bentuk sayap itu. Keterangan ini kemudian digunakan dalam setiap pembuatan sayap pesawat terbang.
Dalam waktu 39 hari pada bulan September dan Oktober 1902 mereka melakukan hampir 1000 kali penerbangan dengan Glider No.3 di bebukitan Devil dekat Kitty Hawk. Tetapi dalam penerbangan tersebut mereka menemukan suatu masalah yang tak terduga yaitu mengenai masalah keseimbangan pada saat berbelok. Akan tetapi Orville segera dapat menemukan solusi dari masalah tersebut yaitu dengan menambahkan kemudi. Pada pembaharuan ini Wilbur menambahkan pembaharuan lain dengan menyatukan pengendali sayap dengan kemudi. Dengan perbaikan-perbaikan besar ini Wright bersaudara telah mencapai ambang penerbangan yang sebenarnya. Yang masih harus mereka lakukan tinggalah memasang mesin pada pesawat.
Mengenai masalah mesin, bagi Wright bersaudara bukanlah menjadi masalah lagi. Ketika tidak didaptkan model yang cocok, mereka merancang dan membuatnya sendiri. Mesin tersebut beratnya 80 kg dengan daya 13 daya kuda. Yang ternyata membingungkan ialah baling-balingnya. Kedua bersaudara itu menemukan hal yang menonjol yakni baling-baling sebenarnya adalah gerakan sayap yang gerakannya spiral. Akan tetapi mengenai cara kerjanya mereka masih bingung. Sesudah penyelidikan berkali-kali mereka berhasil membuat sebuah baling-baling yang efisien.
Pesawat bermesin pertama buatan Wright bersaudara dibuat pada musim panas tahun 1903. Mereka menyebutnya “The Flayer” kemudian pada 14 Desember 1903 pesawat itu di uji cobakan.dengan kemudinya Wilbur. Percobaan pertama ini gagal. Kemudian pada tanggal 17 Desember 1903 setelah perbaikan The Flayer, mereka menerbangkannya kembali dan kali ini Orville sebagai kemudinya. Pesawat ini berhasil diterbangkan selama 12 detik. Mereka berkali-kali menerbangkan pesawat pada hari tersebut dan pada penerbangan terakhir berhasil mencapai 59 detik dengan jarak 260 m. (O’Brien, 1983 : 108). Pesawat The Flyer I (kini terkenal dengan julukan Kitty Hawk) yang memakan ongkos pembuatan kurang dari 1000 dolar Amerika. Pesawat itu mempunyai sayap dengan panjang 12 meter dan berat sekitar 340 kilogram, berkekuatan mesin 12 tenaga kuda dengan berat cuma 77 kilogram. Pesawat asli tersebut sekarang disimpan di Museum Udara dan Ruang Angkasa Washington D.C., Amerika Serikat.
Di tahun 1908 akhirnya mereka menyapu bersih semua kebimbangan dan ketidakpercayaan umum. Wilbur Wright menerbangkan pesawatnya ke Perancis, membikin demonstrasi akrobatik di udara dan mengorganisir perusahaan untuk memasarkan hasil ciptaannya. Sementara itu, di Amerika Serikat, Orville Wright menyuguhkan pertunjukkan serupa. Malangnya, pada tanggal 17 September 1908 pesawatnya jatuh terhempas. Inilah satu-satunya kecelakaan yang pernah dialami oleh mereka berdua. Seorang penumpang tewas, Orville patah kaki dan dua tulang iganya, tetapi segera dapat sembuh. Keberhasilan penerbangannya menggugah pemerintah Amerika Serikat, dan pada tahun 1909 dengan anggaran belanja pemerintah ada pesanan seharga $30.000 untuk keperluan Angkatan Udara.
Pernah ada sengketa hukum menyangkut hak paten antara Wright bersaudara dengan saingan-saingannya, tetapi di tahun 1914 tuntutan mereka ditolak pengadilan. Pada tahun 1912 Wilbur Wright terserang tipus dan meninggal dunia pada umur empat puluh lima tahun. Orville Wright yang pada tahun 1915 menjual saham-sahamnya ke suatu perusahaan, hidup sampai tahun 1948. Tak seorang pun dari kedua bersaudara itu yang pernah menikah.
C. Dampak Penemuan The Flayer Bagi Masyarkat & Dunia
Keberhasilan Wilbur bersaudara dalam membuat The Flayer memiliki dampak yang luar biasa baik dampak positif maupun negatif. Adapun dampak positifnya adalah sebagi berikut :
1. Pada tahun 1911 untuk pertama kali diadakan lomba balap udara, yang membuat berbondong-bondong orang untuk menjadi penakluk tantangan pesawat.
2. Arus mobilisasi antar negara meningkat ketika era penerbangan sipil diproduksi. Mereka dapat menghemat waktu dengan kecepatan yang dimiliki pesawat.
3. Pengetahuan tentang planet dan tata surya semakin berkembang dengan adanya pesawat satelit dan pesawat ulang alik.
4. Dengan memanfaatkan pemotretan dari udara, para ahli purbakala juga dapat mengungkap mengenai penghidupan zaman dahulu
5. Menciptakan lapangan kerja baru karena dengan adanya penemuan pesawat banyak dibuka perusahaan-perusahaan penerbangan dan pabrik-pabrik pesawat terbang.
Selain dampak positif juga terdapat dampak negatif. Berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari kemajuan penerbangan :
1. Pesawat banyak digunakan untuk perang, banyak pesawat yang dirancang untuk kebutuhan perang terutama pada saat Perang Dunia 1. Pesawat militer modern pada saat itu telah mampu melampaui 6000 km/jam.
2. Pesawat membuat kemudahan untuk transportasi barang. Hal ini menguntungkan dari pada pengiriman melalui transportasi darat, sehingga pengiriman melalui transportasi darat berkurang
3. Pesawat terbang mengakibatkan polusi udara. Selain itu juga mengakibatkan polusi suara. Karena pesawat menimbulkan kebisingan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seiring berkembangnya zaman, teknologi juga mengalami perkembangan yang pesat pula. Adanya kemajuan di bidang teknologi semakin memudahkan manusia untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Salah satu teknologi yang mengalami perkembangan pesat adalah teknologi di bidang penerbangan. Secara historis penerbangan sejati pada dasarnya berhutang budi pada empat orang jenius, Sir George Cayley (1773-1857), Otto Lilienthal (1848-1896), dan dua orang bersaudara yakni Wilbur (1867-1912) dan Orville Wright (1871-1948). Sumbangan lainnya datang dari William S.Henson (1812-1888), Octave Chanute (1832-1910), Samuel Pierpont Langley (1834-1906), Sir Hiram Maxim (1840-1916) dan Alfonso Penaud (1850-1880).
The Flayer merupakan pesawat bermesin pertama yang berhasil membawa manusia dan mengangkat dirinya dengan dayanya sendiri ke udara dengan benar-benar terbang dan melayang maju tanpa berkurang kecepatannya, serta akhirnya mendarat di suatu titik yang sama tingginya dengan titik berangkatnya. Pembuat dari The Flayer ini tak lain adalah 2 orang bersaudara, Wilbur dan Orville Wright. Keberhasilan Wright bersaudara dalam menciptakan The Flayer telah mengakibatkan dampak positif dan dampak negatif.
B. Saran
Semangat dari Wright bersaudara yang tidak pernah putus asa, patut untuk dicontoh. Karena semangat dan keberanian mereka untuk mewujudkan mimpilah yang membuat kita pada masa sekarang ini bias hidup enak, dimana jarak bukan menjadi masalah, perjalanan antar negara bahkan antar benua sudah bias ditempuh dalam hitungan hari, bahkan dengan hitungan jam.

DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar Wiranto. 2000. Pengantar Turbin Gas dan Propulsi. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.
O’Brien Robert. 1986. Mesin. Jakarta : Tira Pustaka.
Peterson Roger Tory. 1983. Burung. Jakarta : Tira Pustaka.
Stever H. Guyford & Haggaerty James J. 1986. PenerbanganJakarta : Tira Pustaka.
.

ads

Ditulis Oleh : kristian repi Hari: 04:07 Kategori:

0 comments:

Post a Comment